Sabtu, 24 Januari 2015

Enderson Series- "Meat"




   Namaku Elsa Enderson. Aku hanya hidup berdua bersama kakak laki-lakiku, Jason. Orangtua kami meninggal saat Jason berumur dua belas dan aku lima tahun lebih muda darinya. Kami tinggal di sebuah gubuk kecil dengan sepetak kebun jagung. Jason tak lagi sekolah, Ia bekerja serabutan demi kebutuhan hidup kami berdua.

   "Aku tak apa. Lelaki harus bekerja. Kalau kamu, kau harus sekolah sampai pintar" Itulah yang sering ia katakan padaku.
   Hari itu, kami sedang bermain layang-layang di dekat bukit. Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri kami berdua. Ia menanyakan berapa umur Jason.
 
   "Lima belas,sir" jawab Jason sopan
   "Namaku Eddie.Aku seorang tukang daging. Kau mau bekerja padaku? Aku memerlukan     seseorang untuk membantuku" Jason setuju. Sejak itulah dia memiliki pekerjaan baru. 

    Suatu pagi,aku bertengkar hebat dengan Jason. Ia memarahiku. Padahal aku hanya meminta dia  membawakan daging untuk kumasak. Wajar saja kan,selama ini kami hanya makan jagung dan ubi.
  "Jangan meminta yang aneh-aneh! Jagung saja sudah cukup membuat kita kenyang!" Bentak Jason.
"Aku bosan! Kenapa sih,kau kan bisa saja minta sedikit daging pada bos mu itu" balasku ketus.

    Sejak pertengkaran itu, aku melihat Jason menjadi sedikit pendiam. Mungkin salahku. Aku harus minta maaf sepulang dia bekerja nanti.

   Malam sudah larut,tapi Jason belum juga pulang. Apa dia lembur? Ah,kalau lembur pun takkan mungkin selarut ini. Aku mulai khawatir. Apa dia marah padaku,hingga tak mau pulang? Prasangka buruk mulai menghantui pikiranku. Mr. Eddie... Apa dia melakukan sesuatu pada Jason?
 
   Sepertinya aku harus memastikan langsung. Toh, Kios daging Mr. Eddie tak seberapa jauh. Aku memakai mantel dan berjalan keluar,tak peduli sudah tengah malam. Kios Mr. Eddie hanya berjarak 2 kilometer dari sini.
 
   Hmm..Kiosnya sudah tutup. Pagarnya tak dikunci. Mungkin Jason masih didalam. Aku memasuki kios. Kursi dan meja berserakan. Tampak noda darah berceceran di sekitar meja. Tenanglah,Elsa. Itu hanya bekas darah daging sapi yang baru dipotong. Rupanya suasana tengah malam membuatku paranoid.

    Aku membuka pintu ruang pemotongan daging. Jantungku berdebar tak karuan.
Gelap. "Jason? Kau disini? Apa lampunya rusak?" Aku menyalakan senter. Ukh,bau busuk apa ini? Aku  berjingkat,merasa menginjak sesuatu. 

    Perutku mual seketika.

    Astaga..

    Tangan manusia? Tidak tidak,aku hanya berlebihan. Aku menyorotkan senter kebawah.
 
   Mayat manusia dengan usus terburai berlumuran darah. Samar-samar kudengar isakan tangis dari arah lain.
 
   "E..Elsa?..ak..aku hanya berusaha..mencari daging.."


  



 


Tidak ada komentar :

Posting Komentar